Berkata miris atau harus menangis? ah tidak tahulah yang jelas petugas itu sadis. Betapa tidak di awal November di pagi hari seperti biasa melakukan kegiatan yang sifatnya wajib bagi saya, bekerja mencari rejeki dan ridho Allah SWT tentunya. Singkatnya, dalam perjalanan berangkat menuju tempat saya bekerja dari Bekasi ke Jakarta Timur tepatnya di seputaran Utan Kayu tentu untuk jalur yang saya lewati adalah Kranji, Cakung, Pondok Kopi, Klender, dan seterusnya. Tapi betapa kagetnya saya pada saat di wilayah Pondok Kopi (di bawah flyover) ada petugas DLLAJ (Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan) menggunakan sepeda motor Ninja 150 yang berwarna hijau dan menggunakan uniform lengkap dengan sepatu boot-nya yang kinclong.
Apakah ada masalah
dengan motor tersebut? apakah petugas DLLAJ itu bermasalah dengan saya sehingga
saya berhak berpikir negatif ke dia? apakah petugas DLLAJ itu tidak memiliki
hak untuk menggunakan motor tersebut? bukan itu yang saya permasalahkan tapi
apa yang dikeluarkan dari motor tersebut, yakni asap. Asap yang bagaikan fogging
untuk mengusir nyamuk dan teman-temannya, begitu banyaknya asap yang keluar
dari knalpot motor yang dikendarai petugas tersebut. Tentu dengan asap itu
sangat mengganggu pernafasan saya dan pengendara lain yang menggunakan sepeda
motor juga, tentu pula hati dan pikiran ini meledak-ledak karena ditambah kemacetan
yang luar biasa. Tapi dengan santainya petugas tersebut melaju dengan motor
yang saya anggap sangar tersebut, tentu dengan suara khasnya motor Ninja
tersebut hehehe ya walaupun dulu sempat jadi motor idaman saya ketika SMA dulu
karena kegarangan motor tersebut di zamannya.
Tapi yang saya tahu
dari motor tersebut tidak mengeluarkan asap (mungkin sedikit) sebanyak itu atau
mungkin motor tersebut rusak atau mungkin juga belum ganti oli, dengan sedikit
mengira. Seandainya saja saya mengendarai mobil seperti biasanya mungkin bisa
menikmati kemacetan dengan tenang tanpa terkena asap racun tersebut. Tapi apa
daya kecepatan waktu yang saya butuhkan saat itu sehingga terpaksa memilih opsi
kedua, belalang tempur teman pertama saya untuk menjelajah kota Jakarta kampung
halaman saya.
Sejenak saat itu
terbisik dalam hati apakah dia setidaknya berpikir sebagai petugas yang
mengontrol emisi gas buang suatu kendaraan harusnya menjaga pula mulai dari
dirinya dan kendaraannya? tapi yahhh seperti itulah fenomena para pengemban
tugas negara kita saat ini mulai dari ucapan sampai tindakan tidak sinkron,
saya tidak mau memperpanjang itu.
Petugas daripada institusi
di bawah Kementerian Perhubungan ini harusnya menjadi teladan bagi masyarakat khususnya
para pengguna kendaraan baik pribadi maupun angkutan umum dan industri. Saya
kira menjadi teladan dan contoh itu kewajiban dari mereka sang pengatur. Bisa
jadi mereka menjadi seperti itu karena kebijakan atau sistem yang ada di DLLAJ
sehingga mereka merasa tidak mempunyai rasa memiliki, bijak terhadap pengguna
jalan sekalipun. Mungkin juga para atasan mereka yang tidak mencontohkan atau
punya sikap membiarkan para anak buahnya bertindak seperti itu.
Saya sama sekali tidak
ingin mencari permasalahan dengan petugas tersebut dan atau brand daripada
motor tersebut, Kawasaki. Tapi kepada anda sebagai petugas yang mengemban
visi dan misi dari institusi yang dibiayai oleh negara harusnya jadilah
panutan, jadilah pelopor pengguna kendaraan yang sehat.
Salam.

0 komentar: