A. PENGERTIAN
PERGAULAN
Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat <49>:13)
Kalau
kita bicara tentang pergaulan, maka yang umumnya kita pikirkan adalah hubungan
persahabatan yang ada antara seseorang dengan orang lain. Kita jarang
mengasosiasikan pergaulan dengan hubungan kerja. Dengan kata lain, kita umumnya
memberikan pengertian yang berbeda kepada “lingkungan-kerja” dan
“lingkungan-pergaulan”.
Bagi mereka yang masih sekolah, kita pun seakan-akan membedakan antara lingkungan sekolah dengan lingkungan pergaulan. Semua ini menunjukkan bahwa orang lebih mengartikan "pergaulan" sebagai sesuatu yang lebih dekat dengan "bermain" daripada dengan sesuatu yang serius seperti "bekerja" atau "bersekolah".
Sesungguhnya, pergaulan tidak dapat begitu saja dipisahkan dari pekerjaan maupun sekolah. Tidak jarang seseorang memilih teman bergaul yang juga sekaligus merupakan teman sekolah atau teman kerja. Tetapi, walaupun demikian, umumnya dapat dipahami bahwa bergaul tidaklah sama dengan bekerja atau bersekolah. Nyatalah bahwa orang membutuhkan pergaulan sebagai kegiatan ekstra di luar kegiatan-kegiatan yang bersifat serius.
Kebutuhan manusia akan pergaulan, sebenarnya telah muncul sejak manusia masih sangat muda. Pada masa kecil, seorang anak bergaul dengan orang tuanya, dengan saudara-saudarnya, dan dengan teman-teman permainannya. Kadang-kadang ia juga bergaul dengan pembantu rumah tangganya, atau dengan siapa saja yang "dekat" dengannya. Dalam pergaulan ini, ia belajar tentang banyak hal. Ia belajar tentang hal-hal yang boleh ia lakukan dan tidak boleh ia lakukan. Ia juga belajar tentang hal-hal yang diharapkan orang lain dari padanya. Semua ini menunjukkan bahwa salah satu hal yang diberikan oleh pergaulan adalah: pelajaran tentang hidup bersama orang lain.
Pelajaran tentang cara hidup bersama orang lain ini terus berlangsung ketika anak mengganti lingkungan pergaulan. Dari lingkungan rumah ke lingkungan di luar rumah. Ketika ia mulai bersekolah, ia bergaul dengan lebih banyak orang. Pada jam-jam istirahat di sekolah, ia bergaul dengan teman-teman sekolahnya. Dan ada kemungkinan bahwa ia akan memilih satu atau beberapa teman sekolahnya sebagai “teman-khusus”, teman dekat, atau sahabat karib. Pada mulanya, teman-khusus ini adalah teman yang sejenis. Dengan teman-khusus ini―yang tidak selalu harus merupakan teman sekolah―ia belajar lebih banyak hal lagi. Sejalan dengan perkembangan usianya, ia mungkin memiliki beberapa hal yang hanya bisa ia bicarakan dengan teman-khusus ini. Ia mungkin punya rahasia-rahasia yang hanya bisa ia ungkapkan kepada teman-khusus-nya, karena merasa kurang layak untuk ia ceritakan kepad orang tua atau saudara-saudaranya.
Dengan makin bertambahnya usia seorang anak, makin banyak kebutuhan-kebutuhannya. Ia mulai memiliki kebutuhan untuk menyayangi orang lain dan merasakan kasih sayang orang lain. Ia pun tergerak untuk mencari teman khusus yang lebih istimewa lagi. Ia mulai mencari pacar. Ia mulai mengembangkan pergaulan khusus dengan pacarnya ini. Seperti pada tiap bentuk pergaulan, pergaulan dengan pacar ini pun mengajarkan sesuatu kepada dirinya. Ia belajar hal-hal yang diharapkan oleh seorang kekasih, ia belajar tentang rasa cemburu, belajar tentang konflik antara kepentingan pacar dengan kepentingan pribadi dan belajar tentang macam-macam hal yang lain.
Kalau kemudian suatu waktu seseorang memutuskan untuk menikah, ia pun memasuki suatu lingkungan pergaulan yang lebih khusus lagi, yaitu lingkungan pergaulan suami-istri, dengan sejumlah pelajaran-pelajaran barunya. Sebagian besar dari pelajaran ini, akan sangat sulit dipahami apabila seseorang belum pernah mengikuti pelajaran dalam masa pacaran. Dan pelajaran semasa pacaran pun banyak yang sulit dipahami jika sebelumnya seseorang tidak lebih dahulu "menamatkan" pelajarannya dalam lingkungan pergaulan yang lebih dini. Hal-hal ini sebetulnya menjelaskan mengapa orang-orang yang kurang pergaulan, sering kali juga mengalami kesulitan dalam pacaran dan dalam hubungan perkawinannya.
Jadi, jika seorang ingin sukses dalam pergaulan pada tingkat tertentu, haruslah ia lebih dahulu sukses dalam pergaulan di tingkat yang lebih awal. Dalam hal ini, lingkungan pergaulan suami-istri, dapatlah disamakan dengan pendidikan di tingkat Fakultas, sementara pergaulan semasa kanak-kanak dapat dianggap sebagai Sekolah Dasarnya.
Pergaulan adalah satu cara seseorang untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Bergaul dengan orang lain menjadi satu kebutuhan yang sangat mendasar, bahkan bisa dikatakan wajib bagi setiap manusia yang “masih hidup” di dunia ini. Sungguh menjadi sesuatu yang aneh atau bahkan sangat langka, jika ada orang yang mampu hidup sendiri. Karena memang begitulah fitrah manusia. Manusia membutuhkan kehadiran orang lain dalam kehidupannya.
Tidak ada mahluk yang sama seratus persen di dunia ini. Semuanya diciptakan Allah berbeda-beda. Meski ada persamaan, tapi tetap semuanya berbeda. Begitu halnya dengan manusia. Lima milyar lebih manusia di dunia ini memiliki ciri, sifat, karakter, dan bentuk khas. Karena perbedaan itulah, maka sangat wajar ketika nantinya dalam bergaul sesama manusia akan terjadi banyak perbedaan sifat, karakter, maupun tingkah laku. Allah mencipatakan kita dengan segala perbedaannya sebagai wujud keagungan dan kekuasaan-Nya.
Maka dari itu, janganlah perbedaan menjadi penghalang kita untuk bergaul atau bersosialisasi dengan lingkungan sekitar kita. Anggaplah itu merupakan hal yang wajar, sehingga kita dapat menyikapi perbedaan tersebut dengan sikap yang wajar dan adil. Karena bisa jadi sesuatu yang tadinya kecil, tetapi karena salah menyikapi, akan menjadi hal yang besar. Itulah perbedaan. Tak ada yang dapat membedakan kita dengan orang lain, kecuali karena ketakwaannya kepada Allah SWT (QS. Al_Hujurat <49>:13)
Perbedaan bangsa, suku, bahasa, adat, dan kebiasaan menjadi satu paket ketika Allah menciptakan manusia, sehingga manusia dapat saling mengenal satu sama lainnya. Sekali lagi tak ada yang dapat membedakan kecuali ketakwaannya.
B. ETIKET
DALAM PERGAULAN
Dalam pergaulan hidup
bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan hidup tingkat internasional di
perlukan suatu sistem yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bergaul.
Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling menghormati dan dikenal
dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler dan lain-lain.
Maksud pedoman pergaulan
tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-masing yang terlibat agar mereka
senang, tenang, tentram, terlindung tanpa merugikan kepentingannya serta
terjamin agar perbuatannya yang tengah dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan
yang berlaku dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi umumnya. Hal itulah
yang mendasari tumbuh kembangnya etika di masyarakat kita.
Pengertian
etiket dan etika sering dicampuradukkan, padahal kedua istilah tersebut
terdapat arti yang berbeda, walaupun ada persamaannya. Istilah etika sebagaimana
dijelaskan sebelumnya adalah berkaitan dengan moral (mores), sedangkan kata
etiket adalah berkaitan dengan nilai sopan santun, tata karma dalam pergaulan
formal. Persamaannya adalah mengenai perilaku manusia secara normatif yang
etis. Artinya memberikan pedoman atau norma-norma tertentu yaitu bagaimana seharusnya
seseorang itu melakukan perbuatan dan tidak melakukan sesuatu perbuatan. Istilah
etiket berasal dari Etiquette (Perancis) yang berarti dari awal suatu kartu undangan
yang biasanya dipergunakan semasa raja-raja di Perancis mengadakan pertemuan resmi,
pesta dan resepsi untuk kalangan para elite kerajaan atau bangsawan.
Dalam
pertemuan tersebut telah ditentukan atau disepakati berbagai peraturan atau
tata krama yang harus dipatuhi, seperti cara berpakaian (tata busana), cara
duduk, cara bersalaman, cara berbicara, dan cara bertamu dengan sikap serta
perilaku yang penuh sopan santun dalam pergaulan formal atau resmi. Definisi
etiket, menurut para pakar ada beberapa pengertian, yaitu merupakan kumpulan
tata cara dan sikap baik dalam pergaulan antar manusia yang beradab.
Pendapat lain mengatakan bahwa etiket adalah tata aturan
sopan santun yang disetujui oleh masyarakat tertentu dan menjadi norma
serta panutan dalam bertingkah lake sebagai anggota masyarakat yang baik dan menyenangkan.
Menurut K. Bertens, dalam buku berjudul Etika, 1994.
yaitu selain ada persamaannya, dan juga ada empat perbedaan antara etika dan
etiket, yaitu
secara umumnya sebagai berikut:
secara umumnya sebagai berikut:
1.Etika
adalah niat, apakah perbuatan itu boleh dilakukan atau tidak sesuai pertimbangan
niat
baik
atau buruk sebagai akibatnya. Etiket adalah menetapkan cara, untuk melakukan perbuatan
benar sesuai
dengan yang diharapkan.
2.Etika
adalah nurani (bathiniah), bagaimana harus bersikap etis dan baik yang
sesungguhnya
timbul dari kesadaran dirinya. Etiket adalah
formalitas (lahiriah), tampak dari sikap luarnya
penuh dengan sopan santun dan kebaikan.
3.Etika
bersifat absolut, artinya tidak dapat ditawar-tawar lagi, kalau perbuatan
baik mendapat
pujian dan yang salah
harus mendapat sanksi. Etiket bersifat relatif, yaitu yang dianggap tidak
sopan dalam
suatu kebudayaan daerah tertentu, tetapi belum tentu di tempat daerah lainnya.
4.Etika
berlakunya, tidak tergantung pada ada atau tidaknya orang lain yang hadir. Etiket hanya
berlaku, jika
ada orang lain yang hadir, dan jika tidak ada orang lain
maka etiket itu tidak berlaku.
Menurut para ahli maka etika
tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara
sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Perkataan etika
atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani ETHOS yang berarti
norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku
manusia yang baik.
Etika dalam perkembangannya
sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika memberi manusia orientasi
bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Itu
berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat
dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu kita untuk mengambil
keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yangperlu kita
pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi
kehidupan kita, dengan demikian etika ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian
sesuai dengan aspek atau sisi kehidupan manusianya.
C.
MANFAAT PERGAULAN
Pergaulan
memiliki pengaruh yang sangat signifikan dalam membentuk kepribadian,akhlak dan
tingkah laku manusia. Seseorang akan terikut-ikut sifat sahabat-sahabatnya
melalui pengaruh spiritual yang membuatnya mengikuti tingkah laku sahabatnya.
Manusia
merupakan makhluk sosial yang harus bergaul dengan orang lain dan menjadikan
sebahagian diantara mereka sebagai sahabat. Apabila ia memilih bergaul dengan
orang yang perilakunya jahat atau rusak akhlaknya maka sifat-sifatnya akan
terpengaruh kepada sifat tersebut tanpa disadarinya dan memungkinkan ia
terjerumus ke dalam jalan hidup mereka.
Akan
tetapi,jika dia memilih untuk bergaul dengan ahli iman,takwa, istiqamah dan
makrifat kepada Allah,niscaya pada secara kebiasaannya dia akan melakukan jalan
hidup yang sama .Dia akan dapat belajar dari mereka akhlak yang lurus,iman yang
kukuh,sifat –sifat luhur dan makrifat kepada Allah. Dan ia akan terbebas dari
perkara-perkara yang membawa dirinya kepada kemungkaran.
Oleh
sebab itu akhlak seseorang dapat diketahui dengan mengetahui siapa sahabat yang
paling rapat dengannya.Seorang penyair sufi mengatakan,
Jika
engkau berada dalam satu kaum,maka bergaulah dengan orang-orang yang
terbaik.Janganlah bergaul dengan orang-orang yang tercela.Sehingga engkau
terjerumus kedalam kehinaan.Janganlah bertanya tentang sahabatnya sebab,setiap
orang akan mengikuti sahabatnya.
Di
atas, telah disebutkan bahwa fungsi utama pergaulan adalah sarana belajar
tentang kehidupan bersama. Melalui pergaulan orang belajar bagaimana cara hidup
bersama orang lain. Kalau pergaulan dianggap sebagai tempat belajar, tentulah
harus ada yang menjadi gurunya. Ketika masih sangat kecil, dengan sendirinya
orang dewasalah yang menjadi gurunya. Tetapi ketika seseorang menanjak remaja,
dan pergaulan itu terjadi antara orang-orang yang seusia, siapakah gurunya?
Guru
dalam suatu pergaulan adalah semua pengalaman yang terjadi di dalam pergaulan
itu. Dan pengalaman yang akan terjadi, sangat tergantung pada semua pihak yang
terlibat dalam pergaulan itu. Bila seorang anak kecil tidak pernah nakal, ia
tidak akan belajar mengenai akibat dari kenakalannya. Kalau ia tidak pernah
merengek, ia pun tidak akan merasakan dari rengekannya. Untuk mempelajari
sesuatu melalui pengalaman, seseorang harus aktif mencoba melakukan sesuatu dan
kemudian mempelajari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh perbuatannya.
Karena guru adalah pengalaman, dan pengalaman akan tergantung pada inisiatif pelajaran, maka pelajaranlah yang bertanggung jawab terhadap hasil belajar. Ini berarti bahwa untuk bisa memetik sebanyak mungkin pelajaran, seseorang harus berani berinisiatif, atau dengan kata lain berani mengambil resiko. Dalam pacaran, seseorang harus berani mengambil resiko untuk mengatakan, "Aku CINTA kamu". Tanpa pernah berani mengatakan hal ini, ia tidak akan pernah tahu akibat yang akan ditimbulkan oleh kata-kata bertuah ini. Seseorang yang sudah berulang kali mengucapkan kata-kata ini biasanya menjadi sangat ahli. Ia akan tahu kapan saat yang tepat untuk mengatakannya, ia tahu bagaimana cara mengatakannya, dan ia juga tahu apa yang harus ia lakukan terhadap macam-macam kemungkinan jawabannya. Ia juga belajar untuk menafsirkan berbagai reaksi yang tidak langsung dari inisiatifnya ini, misalnya: Apa artinya kalau si calon pacar diam saja, apa artinya kalau si kekasih mengatakan, "Beri saya waktu untuk berpikir," dan apa pula artinya kalau jawaban yang diterima adalah, "Kita sebaiknya berteman aja deh," dan lain-lain.
Karena guru adalah pengalaman, dan pengalaman akan tergantung pada inisiatif pelajaran, maka pelajaranlah yang bertanggung jawab terhadap hasil belajar. Ini berarti bahwa untuk bisa memetik sebanyak mungkin pelajaran, seseorang harus berani berinisiatif, atau dengan kata lain berani mengambil resiko. Dalam pacaran, seseorang harus berani mengambil resiko untuk mengatakan, "Aku CINTA kamu". Tanpa pernah berani mengatakan hal ini, ia tidak akan pernah tahu akibat yang akan ditimbulkan oleh kata-kata bertuah ini. Seseorang yang sudah berulang kali mengucapkan kata-kata ini biasanya menjadi sangat ahli. Ia akan tahu kapan saat yang tepat untuk mengatakannya, ia tahu bagaimana cara mengatakannya, dan ia juga tahu apa yang harus ia lakukan terhadap macam-macam kemungkinan jawabannya. Ia juga belajar untuk menafsirkan berbagai reaksi yang tidak langsung dari inisiatifnya ini, misalnya: Apa artinya kalau si calon pacar diam saja, apa artinya kalau si kekasih mengatakan, "Beri saya waktu untuk berpikir," dan apa pula artinya kalau jawaban yang diterima adalah, "Kita sebaiknya berteman aja deh," dan lain-lain.
Singkatnya,
untuk memetik pelajaran, seseorang harus berani mengambil resiko. Ada kalanya
akibat yang ditimbulkan menyakitkan hati, tapi bagaimanapun juga resiko itu
harus dijalani. Bayangkanlah saat-saat pertama seorang anak akan melangkahkah
kaki. Ia takut, karena ia belum pernah. Kemudian ketika ia mencoba, ia jatuh.
Sakit. Rasa sakit ini membuat ia ragu untuk mencoba kedua kalinya, tapi ia tahu
bahwa kalau ia tidak mencoba, ia tidak pernah akan berhasil. Kita pun harus
berbuat begitu. Mungkin pengalaman pacaran pertama sangat menyakitkan sehingga
kita tidak berani mencoba untuk kedua kalinya. Tapi kalau kita mau mengambil
resiko, barang kali kita kemudian―seperti anak yang lalu jadi pandai
berjalan―akan menjadi ahli.
D. HAMBATAN
DALAM BERGAUL
Dari
sekian masalah yang harus kita hadapi dalam hidup ini, kesulitan dalam bergaul
adalah salah satunya. Bagi yang kebetulan sedang menghadapi masalah ini,
mungkin ada dua hal yang perlu diingat:
Pertama,
pergaulan itu erat kaitannya dengan kemampuan. Kemampuan di sini artinya bukan
hasil bawaan dari lahir tetapi merupakan kapabilitas yang diraih dari usaha
dalam mengembangkan diri (developmental process). Jadi, apapun kepribadian
anda, pada dasarnya anda punya kesempatan yang sama untuk bergaul seperti juga
orang lain yang punya model kepribadian lain.
Sah-sah
saja kita menyimpulkan, misalanya saja: saya orangnya termasuk Melankolis yang
introvert, pemikir dan pesimis. Dia kan orangnya termasuk Sanguinis yang
ekstrovert, suka ngomong dan optimis. Saya orangnya termasuk Phlegmatis yang
introvert, pengamat dan pesimis. Dia kan orangnya termasuk Koleris yang
ekstrovert pelaku dan optimis. Dan lainnya.
Tetapi
ada satu hal yang perlu diingat bahwa dunia ini tidak peduli dengan apakah kita
termasuk orang berkepribadian ini dan itu. Dunia ini hanya tahu satu hal: kalau
kita mengalami kesusahan bergaul, hidup kita juga mengalami kesusahan yang
tidak kita inginkan. Titik. Ini adalah sebuah dalil mengapa kita perlu
mengembangkan potensi yang mendukung perbaikan kemampuan kita dalam bergaul,
terlepas apapun model kepribadian kita.
Sejumlah
istilah ilmiah yang bisa kita temukan dalam buku-buku kepribadian itu mestinya
kita gunakan untuk melihat sisi plus-minus agar kita bisa mengembangkan diri
sejati kita (bukan jadi seperti orang lain). Sebab, apapun model kepribadian
kita pasti ada sisi plus yang perlu kita kembangkan untuk memperbaiki hidup dan
pasti pula ada sisi minus yang perlu kita kontrol agar tidak sampai merugikan
atau membahayakan.
Kedua,
pergaulan itu tidak identik dengan banyak ngomong atau sedikit ngomong, tidak
identik dengan apakah anda seorang pendiam atau tidak pendiam. Prinsip yang
berlaku dalam pergaulan adalah bagaimana kita berkomunikasi dengan orang lain
(to build) dan bagaimana kita menjaga hubungan itu (to maintain). Karenanya,
jangan heran bila menjumpai ada orang yang banyak ngomong tetapi
pergaulannya sempit dan jangan heran pula bila melihat ada orang yang sedikit ngomong
tetapi pergaulannya luas.
Kalau
melihat acuan Pendidikan Ketrampilan Hidup (Life Skill Education) yang
dipakai PBB (Unesco), akan kita temukan empat pilar utama yang harus dilatih
untuk memperbaiki ketrampilan hidup (terlepas apapun latar belakang pendidikan
formal dan apapun model kepribadian anda). Keempat pilar utama itu adalah:
§
Belajar untuk mengetahui )learning
to know). Semua orang perlu meningkatkan kemampuannya
di sini, yaitu: kemampuan berpikir kritis, berpikir dalam menyelesaikan
masalah, mengambil keputusan, memahami konsekuensi tindakan, dan seterusnya.
§ Belajar
untuk menjadi (learning to be): meningkatkan kemampuan personal seperti
bagaimana menangani stress, bagaimana meningkatkan kepercayaan diri, kesadaran
diri, dan seterusnya
§ Belajar
untuk hidup bersama (learning to live together): kemampuan sosial
seperti komunikasi, negoisasi, kerjasama tim, bergaul, dan seterusnya
§
Belajar untuk melakukan (learning to do): kemampuan manual / praktek
atau keahlian kerja teknis sesuai dengan bidang kita masing-masing
Sekali lagi perlu kita yakinkan pada diri sendiri bahwa
bergaul adalah bagian penting dari ketrampilan hidup. Kita semua sudah tahu
bahwa di dunia ini pasti tidak ada buku atau perpustakaan yang bisa mengungkap
manfaat pergaulan karena saking banyaknya manfaat itu.
Hambatan yang menyulitkan
Ada
beberapa hal yang menghambat usaha kita untuk mengatasi kesulitan dalam
bergaul, antara lain:
1.
Arogansi tersembunyi
Ini
biasanya sangat halus bahkan kita sendiri kurang menyadarinya. Namun demikian
ada bentuk-bentuk riil yang bisa mewakili, misalnya kita menolak untuk bertanya
kepada orang lain lebih dulu dengan alasan “untuk apa”, menolak berjabat tangan
lebih dulu, dan seterusnya. Meski ini adalah hak kita, tetapi kalau yang kita
inginkan adalah menjalin pergaulan, maka kita perlu menggantinya dengan yang lebih
friendly.
Selain
arogansi tersembunyi ini, ada juga yang bisa kita sebut dengan istilah “terlalu
pasif”. Kita memang tidak memiliki alasan “untuk apa” yang bernada mengangkat
diri kita di atas orang lain, tetapi kita terlalu pasif, misalnya menunggu ditanya
lebih dulu, menunggu diajak berjabat tangan lebih dulu, menunggu disapa lebih
dulu, menunggu diajak senyum lebih dulu, dan seterusnya. Dua hal ini bisa
mengganggu pergaulan.
2.
Terlalu memikirkan diri sendiri
Ini
bisa mengganggu kelancaraan saat sedang berbicara / berdialog dengan orang
lain. Ketika sedang berbicara dengan orang lain, jangan memikirkan bagaimana
sepatu anda, bagaimana rambut anda, bagaimana cara duduk anda, bagaimana
seluler anda, dan seterusnya. Atau juga jangan mengembangkan asumsi seperti
misalnya: bagaimana orang lain menilai kostum saya, dan sejumlah “bagaimana”
yang lain. Ini kerap bisa membuat konsentrasi anda bukan pada pembicaraan,
tetapi kepada diri sendiri. Kalau Anda sedikit-sedikit melihat ke diri sendiri,
mungkin anda akan kehilangan momen untuk menghangatkan suasana. Jadi, fokuskan
pada bagaimana menciptakan suasana supaya bisa menjadi hidup, bukan memikirkan
diri sendiri.
3.
Terlalu banyak menilai orang lain (jugdmental)
Menilai
itu tahapan berikutnya. Untuk membuka pintu pergaulan, nomor duakan itu. Atau
juga, simpan dulu di batin anda. Terlalu cepat menghakimi orang lain bisa
mengganggu kelancaran usaha dalam membuka pergaulan. Yang lebih dibutuhkan di
sini adalah kemampuan memunculkan asumsi bahwa semua orang itu punya sisi
positif dan juga punya sisi negatif. Asumsi ini akan banyak membantu dalam
melancarkan urusan pergaulan. Ada sebuah pepatah yang mengingatkan kita begini:
“Kalau Anda menginginkan orang yang sempurna seperti yang Anda inginkan, sebaiknya
Anda hidup seorang diri dengan mengunci kamar”
4.
Terpenjara oleh pemahaman sempit dan mempersempit
Sadar
atau tidak, seringkali kita menciptakan pemahaman yang mempersempit hidup kita
sendiri. Ini biasanya terkait dengan urusan agama, suku, ras, almamater, status
sosial, status pendidikan, dan lain-lain. Meski jarang kita ucapkan tetapi
dalam prakteknya kerap kita jalankan. Kita merasa agak kurang sreg
bergaul dengan lain agama, lain suku, lain almamater, lain status, dan
seterusnya.
Memang
ini hak kita juga tetapi bila dikaitkan dengan upaya mengatasi kesulitan
pergaulan, ya hendaknya ini perlu kita pikirkan ulang. Jangan-jangan hanya
karena kita punya pemahaman yang sempit lalu hidup kita menjadi sempit. Dunia
ini sebetulnya tidak mempersempit kita. Tetapi karena kita punya pemahaman yang
sempit tentang dunia, akhirnya dunia kita menjadi sempit.
5.
Masalah kejiwaan yang umum
Ada
sejumlah masalah kejiwaan umum yang juga kerap menghambat pergaulan, seperti
misalnya kurang pede, malu tanpa alasan yang jelas, minder, takut, cepat
ngambek, sering terjadi konflik dengan orang lain, dan lain-lain. Ada banyak
tip yang bisa kita baca dari berbagai sumber untuk mengatasi masalah ini. Namun
begitu, ada satu kata kunci yang tidak bisa ditinggalkan, yaitu: menghilangkannya
dengan cara mempraktikkan (learning by doing), belajar memperbaiki diri
dari praktik yang kita lakukan.
Keberanian
Anda dalam bergaul akan membaik apabila Anda terus mempraktikkan pergaulan.
Kepercayaan diri Anda akan tumbuh membaik bukan karena Anda banyak tahu tentang
tip pergaulan tetapi karena Anda banyak latihan bergaul (practicing).
Tip, strategi atau pengetahuan itu dibutuhkan pada saat Anda sedang mempraktikkan,
bukan sedang memikirkan.
Hal lain yang tak kalah pentingnya untuk diingat juga
adalah mencampuradukkan antara pergaulan dengan kepentingan lain,
katakanlah di sini misalnya kepentingan bisnis. Untuk orang tertentu pada
keadaan tertentu dengan konteks tertentu dan pada level keakraban tertentu,
terkadang bisa menganggu kalau kita bergaul tetapi tujuan kita adalah ingin
memasarkan produk.
Ini
memang tidak mutlak dan terkadang lebih banyak terkait dengan persoalan cara
dan level keakraban. Berdasarkan omongan orang yang sering saya dengar, orang
agak merasa terganggu dengan model pergaulan yang keakrabannya belum begitu
mendalam tetapi sudah bicara menawarkan produk dengan cara yang agresif. Jika
Anda harus melakukannya juga, tempuhlah cara yang paling asertif (sopan, tidak
bernada “memaksa”, didukung dengan alasan yang kuat).
E.
SOLUSI HAMBATAN DALAM BERGAUL
Ada
beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi masalah kesulitan bergaul
ini, antara lain:
1.
Melatih kepedulian
Kepedulian
itu bentuknya bermacam-macam dari mulai yang paling ringan bisa kita lakukan
sampai ke yang paling berat. Ini misalnya adalah showing interest
(menunjukkan ketertarikan) pada kehidupan orang lain, bisa diajak berbicara
tentang apa yang penting menurut orang lain, memberikan alasan pada orang lain
bahwa Anda tidak berada di pulau yang berbeda dengan mereka, dan seterusnya. Di
sini berarti Anda perlu meningkatkan wawasan yang terkait dengan beberapa topik
utama di lingkungan Anda.
Meskipun
showing interest itu gratis tetapi kalau untuk kepentingan mengatasi
masalah kesulitan bergaul, biasanya berperan sangat penting. Untuk selanjutnya,
bentuk kepedulian ini bisa Anda tingkatkan, misalnya melibatkan diri pada
aktivitas bersama dengan orang lain, memainkan peranan yang bermanfaat bagi
orang lain, memberi bantuan pada orang lain yang membutuhkan anda, dan
seterusnya. Intinya, jangan sampai kita menyalahkan model kepribadian yang kita
miliki seiring dengan serangkaian kesulitan bergaul yang kita alami sementara
kita sendiri jarang menunjukkan ketertarikan pada topik atau hal yang menarik
buat orang lain. Kita merasa hidup di pulau yang jauh dengan orang lain.
2.
Fokuskan pada pengembangan dialog dan suasana
Seperti
yang sudah kita bahas di muka, terlalu memikirkan diri sendiri dan terlalu
membuat penilaian atas orang lain pada saat pembicaraan berlangsung, ini bisa
mengganggu suasana. Karena itu, fokuskan pada suasana, topik pembicaraan, dan
kehangatan dialog. Bagaimana caranya? Di antaranya adalah: a) mengajukan
pertanyaan yang bisa kita pelajari dengan menggunakan kaidah 5W+1H (what,
where, who, why, when, dan how), b) mendengarkan dan mengungkapkan, c)
memunculkan humor atau guyonan yang mendukung dan sesuai kebutuhan.
3.
Menghormati “privacy” orang lain
Ada
beberapa hal tentang orang lain yang membuatnya akan lebih suka kalau kita
ketahui, tetapi juga ada beberapa hal tentang orang lain yang akan membuatnya
tidak nyaman kalau kita ketahui. Hal-hal tentang orang lain yang membuatnya
tidak nyaman kalau kita ketahui inilah yang saya maksudkan dengan privacy.
Biasanya yang kedua ini adalah masalah-masalah yang sangat pribadi.
Setiap
orang itu biasanya memiliki tiga wilayah kehidupan. Pertama adalah wilayah
publik (diketahui secara umum, misalnya tinggal di mana, sekolah di mana, dst),
kedua, wilayah privat (diketahui hanya oleh orang yang dekat, pacarnya siapa,
musuhnya siapa, dst), dan ketiga adalah wilayah pribadi (tidak ingin diketahui
oleh siapapun kecuali dirinya atau suami-istrinya). Untuk kepentingan
kelancaran bergaul, akan lebih OK kalau kita memfokuskan diri untuk mengetahui
hal-hal yang memang orang lain merasa nyaman untuk diketahui (wilayah publik)
dan melupakan apa saja yang membuat orang lain merasa tidak nyaman bila
diketahui (wilayah pribadi)
4.
Lihat orang lain yang lebih berhasil
Pergaulan
itu erat kaitannya dengan seni (the art) atau permainan, (playing the
game) tentang bagaimana menjalin hubungan dengan orang lain. Karena seni,
maka gayanya berbeda-beda dan ini tidak terkait dengan apakah anda orang yang
tipenya banyak ngomong atau sedikit ngomong. Dan, dalam seni permainan,
biasanya ada dua hal yang mendasar, yaitu: a) bagaimana anda mengontrol emosi,
b) bagaimana anda mengimbangi emosi orang lain.
Dua
hal ini memang agak sulit kalau dijelaskan dengan kata-kata. Akan lebih cepat
bisa anda pahami dengan melihat bagaimana orang lain yang secara prestasi di
atas Anda menjaga hubungan. Mereka yang telah berhasil menjaga hubungan sampai
bertahun-tahun, umumnya sudah memiliki kematangan emosi yang lebih bagus. Ini
bukan berarti mereka tidak pernah konflik, gap, berbeda pendapat dan
lain-lain, tetapi karena mereka sudah tahu bagaimana bermain-main dengan emosi.
Karena itu, ada hal-hal yang ditanggapi dengan diam, dengan bicara, dengan
ketawa, dengan biasa-biasa, dengan humor, dan lain-lain.
Kalau
Anda kesulitan mencari contoh, lihatlah bagaiman orang tua kita yang telah
bertahun-tahun mempertahankan hubungan dalam membina keluarga. Secara umum bisa
kita lihat bahwa kecanggihannya dalam memainkan emosi terletak pada
kemampuannya untuk tidak “meng-ekstrim-kan” sesuatu yang berpotensi akan
mengacaukan keadaan atau hubungan. Untuk mencapai kemampuan ini memang perlu
latihan dan ini tidak terkait langsung dengan umur tetapi terkait dengan
pengalaman hidup (life experiencing).
5.
Tingkatkan prestasi Anda
Ini
adalah kunci untuk mengatasi masalah-masalah kejiwaan umum itu. Semakin banyak
hal-hal positif yang bisa Anda realisasikan dari diri Anda, maka semakin
baguslah Anda merasakan diri anda. Bagaimana kita merasakan diri kita akan
terkait dengan bagaimana kita berhadapan dengan orang lain. Karena itu, menurut
teori kesehatan mental, orang yang sedang depresi (punya perasaan negatif
terhadap diri sendiri, orang lain, keadaan atau Tuhan) tidak bisa membangun
hubungan dengan orang lain secara positif dan konstruktif.
F. MENGGUNAKAN ETIKET DALAM KEHIDUPAN
Etiket adalah suatu sikap
seperti sopan santun atau aturan lainnya yang mengatur hubungan antara kelompok
manusia yang beradab dalam pergaulan.
Dalam kehidupan sehari-hari
kita harus selalu memperhatikan etiket dalam melakukan suatu tindakan. Misalkan
dalam berkomunikasi dengan seseorang, kita harus memperhatikan etika komunikasi
yang baik.
Berikut di bawah ini adalah
beberapa etika dan etiket dalam berkomunikasi antar manusia dalam kehidupan
sehari-hari :
1. Jujur
tidak berbohong
2. Bersikap
Dewasa tidak kekanak-kanakan
3. Lapang
dada dalam berkomunikasi
4. Menggunakan
panggilan / sebutan orang yang baik
5. Menggunakan
pesan bahasa yang efektif dan efisien
6. Tidak
mudah emosi / emosional
7. Berinisiatif
sebagai pembuka dialog
8. Berbahasa
yang baik, ramah dan sopan
9. Menggunakan
pakaian yang pantas sesuai keadaan
10. Bertingkah
laku yang baik
Contoh Teknik Komunikasi Yang Baik
1. Menggunakan
kata dan kalimat yang baik menyesuaikan dengan lingkungan
2. Gunakan
bahawa yang mudah dimengerti oleh lawan bicara
3. Menatap
mata lawan bicara dengan lembut
4. Memberikan
ekspresi wajah yang ramah dan murah senyum
5. Gunakan
gerakan tubuh / gesture yang sopan dan wajar
6. Bertingkah
laku yang baik dan ramah terhadap lawan bicara
7. Memakai
pakaian yang rapi, menutup aurat dan sesuai sikon
8. Tidak
mudah terpancing emosi lawan bicara
9. Menerima
segala perbedaan pendapat atau perselisihan yang terjadi
10. Mampu
menempatkan diri dan menyesuaikan gaya komunikasi sesuai dengan karakteristik
lawan bicara.
11. Menggunakan
volume, nada, intonasi suara serta kecepatan bicara yang baik.
12. Menggunakan
komunikasi non verbal yang baik sesuai budaya yang berlaku seperti berjabat
tangan, merunduk, hormat, ces, cipika cipiki (cium pipi kanan - cium pipi kiri)
13. Dan
lain sebagainya.
Daftar Pustaka
Artiningrum,
Kurniasih; Nugroho, 2012, Etika Perilaku
Profesional Sarjana, Graha Ilmu, Yogayakarta
Srijanti, Purwanto,
Artiningrum, 2007, Etika Membangun Sikap
Profesionalisme Sarjana, Graha Ilmu, Yogyakarta
Sumber Internet :
http://belajarpsikologi.com/memelihara-etika-pergaulan/
0 komentar: